LELAKI MISTERIUS
Semua ini berawal ketika aku liburan sekolah.Tiba-tiba terdengar suara
ketukan pintu yang diketuk oleh seorang lelaki, takku kenal. Aku menatapnya dibalik
tirai berpolkadot biru jendela rumahku. Aku menatapnya lamat – lamat. Pakaiannya
lusuh dan acak-acakan, tangannya yang
kurus dan gemetaran.Wajahnya keriput dan tak terawat. Apalagi kakinya, kotor dan
banyak luka, hanya beralaskan sandal japit. Dengan perasaan tak karuan, aku menarik
knop pintu yang menghubungkanku dengan lelaki
tersebut. Pelan- pelan kubuka pintu.
“ Selamat siang ?”
“ Siang, ada yang bisa
saya bantu?”
“ Saya hanya ingin memberi
ini !”.Lelaki itu hanya memberikan sepucuk undangan pernikahan dan kemudian
meninggalkan rumahku tanpa salam.
Aku segera menemui ibuku yang sedang berada
di dapur dan menyerahkan undangan tersebut.
“ Bu, ini ada undangan
tapi ….”. Belum selesai aku mengungkapkan rasa penasaranku, ibu menyuruhku menaruhnya
di ruang tengah. Tanpa bertanya lagi , aku segera meletakkan undangan itu di
ruang tengah, tapi betapa terkejutnya aku ketika menemukan undangan yang serupa
dalam jumlah yang cukup banyak. Semua undangan tersebut sama, bahkan sama persis.
Warnanya yang merah maroon, bentuknya
yang sederhana namun terlihat elegan, tanggal pelaksanaan, dan nama pemiliknya
pun juga sama. Merasa ada sesuatu yang aneh, aku bergegas menemui ibuku lagi.
“ Bu, kenapa diruang
tengah ada banyak undangan yang sama persis ?”
“ ….”. ibu tak menjawab,
hanya tersenyum. Senyum yang tak dapat aku tafsirkan maksudnya.
***
Mentari mulai kembali keperaduannya. Langit
yang cerah kini merambat menjadi gelap bercampur indahnya mega merah. Sayup-sayup
terdengar suara lantunan adzan, pertanda
datangnya waktu sholat. Mega merah mulai hilang dan suasana malam makin mencekam,
celotehan suara jangkrik dan kawan-kawannya mulai terdengar jelas. Keadaan di
sekitar rumahku pun nampak sunyi, tapi tidak bagiku dan keluargaku, kami berkumpul
di ruang tengah. Saling mencurahkan keluh kesah, bercerita tentang pengalaman masing-masing
dan bercanda gurau. Tak peduli bahwa hari tak lagi cerah. Langitpun kini berwarna
hitam pekat ditambah taburan bintang yang ditemani bulan sebagai rajanya. Kami
terus bercanda, hingga tiba-tiba “ tok … tok … tok “. Kami saling bertatap muka
dan itu tandanya harus ada salah satu dari kami yang harus mau membukakan pintu.
Beberapa detik menunggu tak ada satu pun yang beranjak dari tempat duduk masing-masing.
Aku mengalah. Aku bangkit dari tempat dudukku dan membuka pintu, tapi betapa terkejutnya
aku ketika melihat lelaki yang tadi siang memberikan undangan dating lagi. Aku mulai
gemetar dan jantungku berdebar “ada apa lagi
dia kemari ?” keluhku dalam hati.
“ Selamat malam “
“ Malam, ada yang bisa
saya bantu ?”
“ Emm…… selamat”
“ APA?”. Aku semakin
heran dengan tingkah laku lelaki dihadapanku. Tak lama berselang, ibu, ayah, dan
saudara-saudaraku dating menghampiriku. Ayah mengambil alih posisiku yang berada
didepan, aku bergeser kebelakang punggung kakak laki- lakiku. Ada perasaan takut
berkecambuk dihatiku. Aku berbisik kepada kakak laki-lakiku tentang apa yang
terjadi, tapi kakakku tak menjawab, bungkam begitu juga dengan saudara-saudaraku
yang lain.
“ Selamat malam pak Rusli”.
“ Malam. Selamat!”.Lelaki
misterius itu mengatakan kata-kata yang tadi dilontarkannya padaku. Mimik wajahnya
terlihat senang. Namun matanya tak terfokus kepada ayahku. Matanyaberputar-putar.
“ Oh iya,,, selamat ya
pak Rusli.”. ayahku berjabat tangan dengan lelaki misterius itu, juga ibu dan saudara-saudaraku.
Aku masih terdiam. Kakak laki- lakiku menyikutku, menatap tajam, menyuruhku untuk
berjabat tangan dengan pak Rusli yang sudah mengulurkan tangannya di hadapanku,
tapi aku enggan. Lelaki itu memaksa ingin berjabat tangan denganku, tetapi aku tetap
tak mau berjabat tangan dengannya. Alhasil, lelaki tersebut geram dan memukul-mukul
pintu rumahku. Aku ketakutan, keringat dingin memenuhi keningku. Adiku menangis
ketakutan. Semua panik. Karena takut suasana semakin memburuk dan lelaki tersebut
berbuat yang tidak kami sekeluarga inginkan, ibu berdalih bahwa tanganku sedang
sakit, sehingga tidak bisa berjabat tangan. Awalnya lelaki tersebut tak percaya tetapi setelah diam beberapa detik lelaki
tersebut menyerah dan pergi meninggalkan rumahku, lagi-lagi tanpa salam.“ Benar-benar
lelaki yang sangat aneh ”, ujarku dalam hati.
Mentari mulai menampakkan diri meski masih
malu-malu. Dinginnya embun merasuk ke dalam
pori-poriku. Tapi, aku tetap melangkahkan kaki keluar dari tempat singgahku. Tampak
beberapa warga sudah berbondong-bondong pergi menuju tempat rezeki mereka. Mereka tak ingin rezekinya dipatok ayam sehingga di pagi buta seperti ini sudah berangkat. Langkahku
tertuju pada sebuah bangunan mungil dengan halaman yang tertata rapi. Persinggahan sobat masa kecilku, Chaca namanya.
Selain bersilahturahmi, aku yakin Chaca bisa memberi informasi tentang lelaki misterius
yang kemarin telah berkunjung ke rumah.
“ Please cha,
aku yakin kamu tahu tentang lelaki misterius yang datang kerumahku kemarin”.
“ Ya, sebenarnya aku
tahu, tapi kayaknya kamu nggak perlu tahu deh, nggak penting jugakan?”
“ Ayolah Cha!”
“ Oke-oke, aku akan cerita.
Lelaki yang kamu anggap misterius itu namanya bapak Rusli. Dia dianggap aneh gara-gara
frustasi..”
“ Memangnya frustasi
kenapa?”
“ Anak pak Rusli itu
meninggal dunia karena kecelakaan, satu hari belum acara pernikahannya. Kemudian
istrinya yang mempunyai penyakit jantung, syock. Mungkin merasa kehilangan anak
semata wayangnya tersebut.
“ Terus sekarang kemana
istrinya?”
“ Istrinya meninggal
dunia dua hari setelah kematian anaknya. Sejak itulah pak Rusli bertingkah aneh.
Mungkin karena pak Rusli nggak kuat mental dan imannya ditinggal dua orang tersayang
sekaligus di dalam hidupnya. Pak Rusli juga diusir dari kampungnya karena dianggap
bisa merusak nama baik desa pak Rusli, akhirnya beliau menetap disini. Awalnya warga
sini juga berniat mengusir pak Rusli, tetapi sejak mengetahui penyebab pak Rusli
bertingkah aneh, warga membiarkan pak Rusli tinggal di kampung ini. “
“ Kasihan sekali ya?,”
“ Iya.”.
Akirnya aku mengetahui kenapa Pak Rusli bertingkah
aneh. Sehingga setiap kali Pak Rusli mendatangi rumahku, aku tidak lagi ketakutan,
malah jika mengingat cerita Chaca, aku jadi merasa iba kepada Pak Rusli.
Waktu terus berjalan. Berputar terus menerus
dan tak akan pernah mau berhenti. Jam berganti jam, hari berganti hari. Tak terasa
besok aku harus kembali lagi ke pondok. Kini pukul 18.00, aku menggunakan waktuku
yang kurang beberapa jam lagi dengan bergurau bersama orang tuaku di teras depan
rumah. Kami terkejut ketika adikku datang dengan berlari dan nafas terengah-engah.
“ Pak,Pak Rusli meninggal
dunia, barusan pak Basuki bilang!” Seru adiku sembari berlari
“ya sudah, sekarang bapak
kerumah pak Basuki untuk memastikan”
“ Langsung ke masjid
aja pak, soalnya pak Rusli meninggal disana”
“ Iya..iya, bapak berangkat,
assalamu’alaikum”
“ Wa’alaikumsalam” jawab kami serempak
Hatiku berdesir, ada perasaan cemas tiba-tiba
muncul di hatiku. “ Sungguh malang nasib Pak Rusli” batinku. Aku juga bergegas menuju
masjid bersama ibu dan adikku. Kami ingin melihat bagaimana keadaan Pak Rusli
“ Bagaimana keadaan pak
Rusli, pak?” tanyaku kepada salah satu tetangga.
“ Pak Rusli meninggal
setelah sholat Maghrib dengan membawa undangan pernikahan anaknya yang
akan beliau sebarkan.”
Tak selang lama, warga sudah berkumpul
di masjid untuk mengurus pemakaman pak Rusli. Bagaimanapun pak Rusli sudah
menjadi warga kampungku “kepuh”. Selamat tinggal Pak Rusli, semoga engkau bisa berkumpul
lagi bersama keluargamu di akhirat kelak. Ujarku lirih.
kurang menarik ra..... terlalu kaku bahasanya......
BalasHapus