Selasa, 16 Desember 2014

LELAKI MISTERIUS
Semua ini berawal ketika aku liburan sekolah.Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang diketuk oleh seorang lelaki, takku kenal. Aku menatapnya dibalik tirai berpolkadot biru jendela rumahku. Aku menatapnya lamat – lamat. Pakaiannya lusuh dan acak-acakan,  tangannya yang kurus dan gemetaran.Wajahnya keriput dan tak terawat. Apalagi kakinya, kotor dan banyak luka, hanya beralaskan sandal japit. Dengan perasaan tak karuan, aku menarik  knop pintu yang menghubungkanku dengan lelaki tersebut. Pelan- pelan kubuka pintu.
“ Selamat siang ?”
“ Siang, ada yang bisa saya bantu?”
“ Saya hanya ingin memberi ini !”.Lelaki itu  hanya  memberikan sepucuk undangan pernikahan dan kemudian meninggalkan rumahku tanpa salam.
        Aku segera menemui ibuku yang sedang berada di dapur dan menyerahkan undangan tersebut.
“ Bu, ini ada undangan tapi ….”. Belum selesai aku mengungkapkan rasa penasaranku, ibu menyuruhku menaruhnya di ruang tengah. Tanpa bertanya lagi , aku segera meletakkan undangan itu di ruang tengah, tapi betapa terkejutnya aku ketika menemukan undangan yang serupa dalam jumlah yang cukup banyak. Semua undangan tersebut sama, bahkan sama persis. Warnanya yang merah maroon, bentuknya yang sederhana namun terlihat elegan, tanggal pelaksanaan, dan nama pemiliknya pun juga sama. Merasa ada sesuatu yang aneh, aku bergegas menemui ibuku lagi.
“ Bu, kenapa diruang tengah ada banyak undangan yang sama persis ?”
“ ….”. ibu tak menjawab, hanya tersenyum. Senyum yang tak dapat aku tafsirkan maksudnya.
***
        Mentari mulai kembali keperaduannya. Langit yang cerah kini merambat menjadi gelap bercampur indahnya mega merah. Sayup-sayup terdengar suara lantunan adzan, pertanda datangnya waktu sholat. Mega merah mulai hilang dan suasana malam makin mencekam, celotehan suara jangkrik dan kawan-kawannya mulai terdengar jelas. Keadaan di sekitar rumahku pun nampak sunyi, tapi tidak bagiku dan keluargaku, kami berkumpul di ruang tengah. Saling mencurahkan keluh kesah, bercerita tentang pengalaman masing-masing dan bercanda gurau. Tak peduli bahwa hari tak lagi cerah. Langitpun kini berwarna hitam pekat ditambah taburan bintang yang ditemani bulan sebagai rajanya. Kami terus bercanda, hingga tiba-tiba “ tok … tok … tok “. Kami saling bertatap muka dan itu tandanya harus ada salah satu dari kami yang harus mau membukakan pintu. Beberapa detik menunggu tak ada satu pun yang beranjak dari tempat duduk masing-masing. Aku mengalah. Aku bangkit dari tempat dudukku dan membuka pintu, tapi betapa terkejutnya aku ketika melihat lelaki yang tadi siang memberikan undangan dating lagi. Aku mulai gemetar dan jantungku berdebar “ada apa lagi dia kemari ?” keluhku dalam hati.
“ Selamat malam “
“ Malam, ada yang bisa saya bantu ?”
“ Emm…… selamat”
“ APA?”. Aku semakin heran dengan tingkah laku lelaki dihadapanku. Tak lama berselang, ibu, ayah, dan saudara-saudaraku dating menghampiriku. Ayah mengambil alih posisiku yang berada didepan, aku bergeser kebelakang punggung kakak laki- lakiku. Ada perasaan takut berkecambuk dihatiku. Aku berbisik kepada kakak laki-lakiku tentang apa yang terjadi, tapi kakakku tak menjawab, bungkam begitu juga dengan saudara-saudaraku yang lain.
“ Selamat malam pak Rusli”.
“ Malam. Selamat!”.Lelaki misterius itu mengatakan kata-kata yang tadi dilontarkannya padaku. Mimik wajahnya terlihat senang. Namun matanya tak terfokus kepada ayahku. Matanyaberputar-putar.
“ Oh iya,,, selamat ya pak Rusli.”. ayahku berjabat tangan dengan lelaki misterius itu, juga ibu dan saudara-saudaraku. Aku masih terdiam. Kakak laki- lakiku menyikutku, menatap tajam, menyuruhku untuk berjabat tangan dengan pak Rusli yang sudah mengulurkan tangannya di hadapanku, tapi aku enggan. Lelaki itu memaksa ingin berjabat tangan denganku, tetapi aku tetap tak mau berjabat tangan dengannya. Alhasil, lelaki tersebut geram dan memukul-mukul pintu rumahku. Aku ketakutan, keringat dingin memenuhi keningku. Adiku menangis ketakutan. Semua panik. Karena takut suasana semakin memburuk dan lelaki tersebut berbuat yang tidak kami sekeluarga inginkan, ibu berdalih bahwa tanganku sedang sakit, sehingga tidak bisa berjabat tangan. Awalnya lelaki tersebut tak  percaya tetapi setelah diam beberapa detik lelaki tersebut menyerah dan pergi meninggalkan rumahku, lagi-lagi tanpa salam.“ Benar-benar lelaki yang sangat aneh ”, ujarku dalam hati.
        Mentari mulai menampakkan diri meski masih malu-malu. Dinginnya embun  merasuk ke dalam pori-poriku. Tapi, aku tetap melangkahkan kaki keluar dari tempat singgahku. Tampak beberapa warga sudah berbondong-bondong pergi menuju tempat rezeki mereka. Mereka tak ingin rezekinya dipatok ayam sehingga di pagi buta seperti ini sudah berangkat. Langkahku tertuju pada sebuah bangunan mungil dengan halaman yang tertata rapi.  Persinggahan sobat masa kecilku, Chaca namanya. Selain bersilahturahmi, aku yakin Chaca bisa memberi informasi tentang lelaki misterius yang kemarin telah berkunjung ke rumah.
Please cha, aku yakin kamu tahu tentang lelaki misterius yang datang kerumahku kemarin”.
“ Ya, sebenarnya aku tahu, tapi kayaknya kamu nggak perlu tahu deh, nggak penting jugakan?”
“ Ayolah Cha!”
“ Oke-oke, aku akan cerita. Lelaki yang kamu anggap misterius itu namanya bapak Rusli. Dia dianggap aneh gara-gara frustasi..”
“ Memangnya frustasi kenapa?”
“ Anak pak Rusli itu meninggal dunia karena kecelakaan, satu hari belum acara pernikahannya. Kemudian istrinya yang mempunyai penyakit jantung, syock. Mungkin merasa kehilangan anak semata wayangnya tersebut.
“ Terus sekarang kemana istrinya?”
“ Istrinya meninggal dunia dua hari setelah kematian anaknya. Sejak itulah pak Rusli bertingkah aneh. Mungkin karena pak Rusli nggak kuat mental dan imannya ditinggal dua orang tersayang sekaligus di dalam hidupnya. Pak Rusli juga diusir dari kampungnya karena dianggap bisa merusak nama baik desa pak Rusli, akhirnya beliau menetap disini. Awalnya warga sini juga berniat mengusir pak Rusli, tetapi sejak mengetahui penyebab pak Rusli bertingkah aneh, warga membiarkan pak Rusli tinggal di kampung ini. “
“ Kasihan sekali ya?,”
“ Iya.”.
        Akirnya aku mengetahui kenapa Pak Rusli bertingkah aneh. Sehingga setiap kali Pak Rusli mendatangi rumahku, aku tidak lagi ketakutan, malah jika mengingat cerita Chaca, aku jadi merasa iba kepada Pak Rusli.
        Waktu terus berjalan. Berputar terus menerus dan tak akan pernah mau berhenti. Jam berganti jam, hari berganti hari. Tak terasa besok aku harus kembali lagi ke pondok. Kini pukul 18.00, aku menggunakan waktuku yang kurang beberapa jam lagi dengan bergurau bersama orang tuaku di teras depan rumah. Kami terkejut ketika adikku datang dengan berlari dan nafas terengah-engah.
“ Pak,Pak Rusli meninggal dunia, barusan pak Basuki bilang!” Seru adiku sembari berlari
“ya sudah, sekarang bapak kerumah pak Basuki untuk memastikan”
“ Langsung ke masjid aja pak, soalnya pak Rusli meninggal disana”
“ Iya..iya, bapak berangkat, assalamu’alaikum
Wa’alaikumsalam” jawab kami serempak
        Hatiku berdesir, ada perasaan cemas tiba-tiba muncul di hatiku. “ Sungguh malang nasib Pak Rusli” batinku. Aku juga bergegas menuju masjid bersama ibu dan adikku. Kami ingin melihat bagaimana keadaan Pak Rusli
“ Bagaimana keadaan pak Rusli, pak?”  tanyaku kepada salah satu tetangga.
“ Pak Rusli meninggal setelah sholat Maghrib dengan membawa undangan pernikahan anaknya yang akan beliau sebarkan.”
        Tak selang lama, warga sudah berkumpul di masjid untuk mengurus pemakaman pak Rusli. Bagaimanapun pak Rusli sudah menjadi warga kampungku “kepuh”. Selamat tinggal Pak Rusli, semoga engkau bisa berkumpul lagi bersama keluargamu di akhirat kelak. Ujarku lirih.






1 komentar: