KAWAN SEMU
NaDe
Melihatmu tersenyum adalah hal
yang selalu aku nanti. Terasa nyaman dalam hati dan sejuk dalam jiwa.
Apapun akan aku lakukan hanya untuk
mendengar kata “kawanku” terlontar dari
bibirmu. Bahkan akupun rela mengorbankan sesuatu
hanya untukmu, kawan. Tahukah kau betapa senangnya diriku ketika seseorang
berkata, dimana ada aku pasti ada kau. Namun
sepertinya itu semua tak berlaku bagimu. Semua pengobananku hanya kau anggap
sepeleh. Hanya saat sedihlah kau hadir. Menangis dipelukanku dan mengacuhkanku saat kau
bahagia. Tahukah kau bahwa tu menyakitkan,
kawan. Kini kau hanya mau bermain bersama mereka, yang tanpa
kau sadari telah menusukmu dari belakang. Dan
aku hanyalah pelampiasan bagimu. Tak
pernah lebih.
Aku
tak egois. Aku hanya ingin sebuah keadilan. Kau selalu mengabaikanku, tanpa
peduli perasaanku. Kurang apa aku, kawan? Tahukah kau, kawan bahwa dibalik senyumku
selama ini tergores luka yang teramat perih?.
Kau bahkan tak peduli jikalau aku dalam kesusahan, kesakitan, dan kesedihan.
Aku memang ttak ada bandinganya dengan mereka,
tapi aku punya kasih sayang kawan. Kasih sayang tanpa noda. Kasih sayang tanpa pamrih.Tak
seperti kereka.
Kini
kau ada dihadapanku. Menatapku dengan cucuran air mata. Menangisi kekecewaanmu
terhadap mereka. Aku menangis kawan. Aku menangisi kesedihanmu. Tanganku pun
tak perlu komando untuk mengusap air matamu dan memelukmu. Tapi semua ini hanya
sia-sia jika hanya seperti ini terus
bukan?. Kali ini aku tak bisa semanis aku yang kau kenal. Tak sebaik yang kau tahu. Aku lelah
dengan kesemuan ini. Aku letih tersakiti terus. Sudah saatnya kau tahu bahwa hati tak akan bisa selamanya menahan perih.
Kini tak ada lagi pelukan dan senyum.
“
kenapa kamu ninggalin aku saat sedih kawan??”. Masih terngiang jelas pertanyaan
itu. Pertanyaan yang membuatku semakin
tersakiti. Namun, semua ini harus berlalu. Aku bukanlah aku
yang dulu. Aku bukanlah kawan semu yang hanya diambil dari gudang yang
terasingkan dan dijumpai jikalau
diperlukan saja. Aku adalah nyata. Bukan
semu.
Meski kau menganggapku nyata yang semu. Aku tak benci padamu, tak pula marah. Aku hanya
ingin kau sadar, bahwa kawan sejati adalah kawan yang bisa menerimamu tak hanya dalam senang melainkan juga dalam
sedih. Kawan sejati adalah salah satu orang yang selalu mendukungmu tanpa harus dikomando. Kawan sejati adalah kawan yang
menerimamu apa adanya, bukan ada apanya.
***
“
kenapa kamu menangis??” terngiang kembali dalam
benakku saat awal kita berjumpa. Kau duduk
dibawah meja dengan isak tangis yang tertahan.
“ mereka tak mau berteman denganku. Mereka bilang aku hanyalah gadis buruk yang tak pantas berteman dengan mereka.” Aku menatapnya dalam-dalam. Mengusap air matanya. “ aku bisa bantu kamu untuk berteman dengan mereka”. Seketika itu, wajahmu menengada dengan binar kebahagiaan yang menghiasi. “ makasih kawan”. Indah sekali bukan ucapannya?.
“ mereka tak mau berteman denganku. Mereka bilang aku hanyalah gadis buruk yang tak pantas berteman dengan mereka.” Aku menatapnya dalam-dalam. Mengusap air matanya. “ aku bisa bantu kamu untuk berteman dengan mereka”. Seketika itu, wajahmu menengada dengan binar kebahagiaan yang menghiasi. “ makasih kawan”. Indah sekali bukan ucapannya?.
Dua
tahun telah terlawati. Dan kini kau bisa leluasa berteman dengan mereka.
Seperti harapanmu yang selalu kau ucapkan didepanku. Dua tahun pula kau
mengacuhkanku. Menganggap semu keberadaanku. Terlena dengan mereka yang kau
miliki sekarang, tanpa sekalipun mengingat siapa yang selama ini membantumu dikala kau susah. Kalaupun aku diberi satu permohonan kepada Tuhan . Aku akan meminta, merengek bila perlu, agar kita kembali kemasa awal kita bertemu. Dua
tahun silam. Ya,dua tahun yang lalu. Aku
akan mengubah perkataanku menjadi “ aku mau menjadi temanmu yang bisa lebih
baik dari mereka’. Sehingga kau tak perlu berteman dengan mereka yang
menyia-nyiakanmu dan melihatku sebagai kawan nyata, bukan semu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar