Selasa, 16 Desember 2014

KAWAN  SEMU
NaDe
            Melihatmu tersenyum adalah hal yang selalu aku nanti. Terasa nyaman dalam hati dan sejuk dalam jiwa. Apapun akan aku lakukan hanya untuk mendengar kata “kawanku” terlontar dari bibirmu. Bahkan akupun rela mengorbankan sesuatu hanya untukmu, kawan. Tahukah kau betapa senangnya diriku ketika  seseorang  berkata, dimana ada aku pasti ada kau. Namun sepertinya itu semua tak berlaku bagimu. Semua pengobananku hanya kau anggap sepeleh. Hanya saat sedihlah kau hadir. Menangis dipelukanku dan mengacuhkanku saat kau bahagia. Tahukah kau bahwa tu menyakitkan, kawan. Kini kau hanya mau bermain bersama mereka, yang tanpa kau sadari telah menusukmu dari belakang. Dan aku hanyalah pelampiasan bagimu.  Tak pernah lebih.
            Aku tak egois. Aku hanya ingin sebuah keadilan. Kau selalu mengabaikanku, tanpa peduli perasaanku. Kurang apa aku, kawan? Tahukah kau, kawan bahwa dibalik senyumku selama ini tergores luka yang teramat perih?. Kau bahkan tak peduli jikalau aku dalam kesusahan, kesakitan, dan kesedihan. Aku memang ttak ada bandinganya dengan mereka, tapi aku punya kasih sayang kawan. Kasih sayang tanpa noda. Kasih sayang tanpa pamrih.Tak seperti kereka.
            Kini kau ada dihadapanku. Menatapku dengan cucuran air mata. Menangisi kekecewaanmu terhadap mereka. Aku menangis kawan. Aku menangisi kesedihanmu. Tanganku pun tak perlu komando untuk mengusap air matamu dan memelukmu. Tapi semua ini hanya sia-sia jika hanya seperti ini terus bukan?. Kali ini aku tak bisa semanis aku yang kau kenal. Tak sebaik yang kau tahu. Aku lelah dengan kesemuan ini. Aku letih tersakiti terus. Sudah saatnya kau tahu bahwa hati tak akan bisa selamanya menahan perih. Kini tak ada lagi pelukan dan senyum.
            “ kenapa kamu ninggalin aku saat sedih kawan??”. Masih terngiang jelas pertanyaan itu. Pertanyaan yang membuatku semakin tersakiti. Namun, semua ini harus berlalu. Aku bukanlah aku yang dulu. Aku bukanlah kawan semu yang hanya diambil dari gudang yang terasingkan dan dijumpai  jikalau diperlukan saja. Aku adalah nyata. Bukan semu. Meski kau menganggapku nyata yang semu. Aku tak benci padamu, tak pula marah. Aku hanya ingin kau sadar, bahwa kawan sejati adalah kawan yang bisa menerimamu tak hanya dalam senang melainkan juga dalam sedih. Kawan sejati adalah salah satu orang yang selalu mendukungmu tanpa harus dikomando. Kawan sejati adalah kawan yang menerimamu apa adanya, bukan ada apanya.
                                                            ***
            “ kenapa kamu menangis??” terngiang kembali dalam benakku saat awal kita berjumpa. Kau duduk dibawah meja dengan isak tangis yang tertahan.
“ mereka tak mau berteman denganku. Mereka bilang aku hanyalah gadis buruk yang tak pantas berteman dengan mereka.” Aku menatapnya dalam-dalam. Mengusap air matanya. “ aku bisa bantu kamu untuk berteman dengan mereka”. Seketika itu, wajahmu menengada dengan binar kebahagiaan yang menghiasi. “ makasih kawan”. Indah sekali bukan ucapannya?.
            Dua tahun telah terlawati. Dan kini kau bisa leluasa berteman dengan mereka. Seperti harapanmu yang selalu kau ucapkan didepanku. Dua tahun pula kau mengacuhkanku. Menganggap semu keberadaanku. Terlena dengan mereka yang kau miliki sekarang, tanpa sekalipun mengingat siapa yang selama ini membantumu dikala kau susah. Kalaupun aku diberi satu permohonan  kepada Tuhan . Aku akan meminta, merengek bila perlu, agar  kita kembali kemasa awal kita bertemu. Dua tahun silam.  Ya,dua tahun yang lalu. Aku akan mengubah perkataanku menjadi “ aku mau menjadi temanmu yang bisa lebih baik dari mereka’. Sehingga kau tak perlu berteman dengan mereka yang menyia-nyiakanmu dan melihatku sebagai kawan nyata, bukan semu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar